Jakarta, 21 Januari 2026 - Indonesian Petroleum Association (IPA) menegaskan optimisme terhadap masa depan industri hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional di tengah tantangan global, kebutuhan ketahanan energi, serta agenda transisi energi. Optimisme tersebut disampaikan dalam kegiatan Media Visit IPA Convex 50th Anniversary ke KG Group, yang menjadi bagian dari rangkaian pra-acara menuju penyelenggaraan IPA Convention & Exhibition (Convex) ke-50 tahun 2026.
Anggota Dewan IPA, Ronald Gunawan mengatakan ketahanan energi nasional tetap menjadi agenda strategis pemerintah dan industri, dengan target jangka panjang yang ambisius namun realistis apabila didukung oleh kebijakan yang tepat dan iklim investasi yang kompetitif. Ia menekankan bahwa target produksi nasional sebesar 1 juta barel minyak per hari dan 12 BCF gas per hari merupakan cita-cita yang mencerminkan komitmen Indonesia terhadap kemandirian energi.
“Kami melihat target tersebut sebagai aspirasi yang positif. Yang terpenting adalah bagaimana roadmap pemerintah untuk mencapainya, terutama melalui percepatan eksplorasi dan pengembangan lapangan baru,” ujar Ronald. Menurutnya, sebagian besar lapangan migas eksisting di wilayah-wilayah konvensional seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan telah mengalami penurunan produksi sehingga eksplorasi menjadi kunci utama keberlanjutan industri.
Ronald juga menyoroti bahwa dalam beberapa tahun terakhir, minat investor terhadap sektor hulu migas Indonesia mulai menunjukkan tren pemulihan. Masuknya kembali sejumlah perusahaan internasional, serta ketertarikan pemain baru, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas Indonesia. Namun demikian, ia menegaskan bahwa investasi migas bersifat jangka panjang dan sangat bergantung pada kepastian fiskal, stabilitas regulasi, serta jaminan keamanan.
“Indonesia memiliki keunggulan kompetitif berupa stabilitas nasional, ketersediaan sumber daya alam, serta kualitas sumber daya manusia yang baik. Tantangannya adalah menciptakan lingkungan usaha yang semakin kompetitif, termasuk penyederhanaan perizinan dan pembaruan regulasi,” tambahnya. IPA, lanjut Ronald, terus mendorong pembaruan Undang-Undang Migas agar lebih adaptif terhadap tantangan industri saat ini dan memberikan kepastian hukum bagi investor.
Sementara itu, Chairperson IPA Convex 50th, Teresita Listyani menjelaskan peringatan 50 tahun IPA Convex bukan sekadar perayaan historis, tetapi menjadi momentum refleksi dan aksi untuk membentuk masa depan industri energi Indonesia. Mengusung tema “50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era of Advanced Growth”, IPA Convex 2026 akan menjadi platform strategis untuk dialog kebijakan, pertukaran gagasan, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
“Refleksi tanpa aksi hanya akan menjadi nostalgia. Karena itu, IPA Convex 2026 dirancang untuk mendorong solusi nyata atas tantangan industri, mulai dari investasi, teknologi, hingga transisi energi,” ujar Teresita. Ia menambahkan bahwa tren partisipasi IPA Convex terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari sisi jumlah delegasi, negara peserta, exhibitor, maupun jurnalis.
Melalui media visit ini, IPA menegaskan peran strategis media sebagai mitra dalam menyampaikan informasi yang berimbang dan konstruktif mengenai industri hulu migas. IPA berharap, rangkaian kegiatan menuju IPA Convex 50th dapat memperkuat pemahaman publik bahwa industri hulu migas tetap memiliki peran penting dalam menopang ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.